JAKARTA, KABAR.ID– Di tengah kian mendesaknya krisis lingkungan global, muncul secercah harapan dari sebuah ruang sederhana di Jakarta Timur. Aula Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 19 Juli 2025 lalu menjadi saksi lahirnya inisiatif yang menjembatani spiritualitas dan ekologi: “Penguatan Peran Da’i dalam Mengembangkan Karakter Umat yang Peduli Lingkungan.”
Bukan konferensi ilmiah, bukan pula pertemuan para ahli lingkungan. Yang berkumpul di sana adalah para da’i—penyeru kebaikan—dan para mahasiswa Program Dakwah Unggulan (PDU), bersama perwakilan MUI dari seantero Jakarta Timur. Mereka datang membawa semangat baru: menyelamatkan bumi lewat dakwah.

Di hadapan lebih dari 30 peserta, Dr. Izzatul Mardhiah, MA, seorang akademisi dan aktivis dakwah ekologis, menyampaikan gagasannya yang mengalir dalam dan menginspirasi.
Menurutnya, Islam bukan hanya tentang ritual, tetapi tentang tanggung jawab etis terhadap seluruh ciptaan. “Alam bukan sekadar latar tempat manusia hidup, ia adalah amanah. Seorang da’i tidak bisa lagi memisahkan pesan keagamaan dari pesan lingkungan,” ujarnya.
Dalam Islam, konsep khalifah (pemimpin di bumi) membawa tanggung jawab besar: menjaga keseimbangan alam. Dalam bahasa Izzatul, dakwah harus menyentuh sisi sosial dan ekologis. Da’i bukan hanya pengingat ibadah, tapi juga penyuluh moral bumi.
Diskusi yang menyusul mengalir hangat dan penuh refleksi. Pertanyaan-pertanyaan muncul: Bagaimana mengemas khutbah Jumat yang menyentuh isu lingkungan? Bagaimana menghadapi jamaah yang membuang sampah sembarangan namun rutin ke masjid?
Seorang mahasiswa PDU angkat suara, “Kami sering bicara soal akhlak, tapi lupa bahwa mencintai bumi juga bagian dari akhlak. Kegiatan ini membuka mata kami.”
Dr. Amaliyah, dosen dari Prodi PAI FISH UNJ yang juga hadir, menekankan pentingnya membekali para calon da’i dengan wawasan luas, termasuk isu lingkungan. “Kami ingin lulusan kami tidak hanya piawai menyampaikan ayat, tapi juga peka terhadap tantangan zaman.”
Acara ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama antara UNJ dan MUI Jakarta Timur, sebagai awal dari sinergi jangka panjang. Komitmen itu bukan hanya soal kerja sama kelembagaan, tapi simbol dari kesadaran bersama: bahwa dakwah dan pelestarian bumi adalah dua sisi dari kepedulian yang sama.
Dari ruang dakwah yang sempit, terbitlah harapan luas. Di tengah polusi, para da’i kini membawa pesan yang lebih segar: bahwa mencintai bumi adalah ibadah, dan menjaga lingkungan adalah bagian dari iman. Seperti bumi yang terus berputar, semoga semangat ini juga terus tumbuh, menembus masjid, majelis, dan hati manusia untuk bumi lebih hijau (Marwan Aziz).

