TAHERAN, KABAR.ID– Di antara gurun tandus dan laut biru pekat, terbentang sebuah jalur sempit yang selama puluhan tahun menjadi nadi energi dunia: Selat Hormuz.
Lebarnya hanya puluhan kilometer, tetapi dari sinilah sekitar sepertiga pasokan minyak dunia pernah mengalir setiap harinya—menjadikannya titik paling rawan sekaligus paling vital dalam geopolitik modern.
Kini, selat itu kembali menjadi sorotan. Ketegangan meningkat setelah Donald Trump dilaporkan meminta negara-negara dunia untuk turut serta membuka blokade yang dikaitkan dengan Iran.
Permintaan itu bukan sekadar diplomasi biasa—melainkan panggilan untuk unjuk kekuatan di salah satu jalur laut paling berbahaya di planet ini. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Sunyi dari Sekutu
Alih-alih membentuk armada gabungan, respons dunia terdengar lirih. Negara-negara yang selama ini dikenal sebagai sekutu dekat Amerika Serikat memilih menahan diri—sebagian menolak, sebagian lain mengambang tanpa komitmen jelas.
Fenomena ini mencerminkan kehati-hatian baru dalam percaturan global. Bukan semata soal loyalitas, tetapi kalkulasi risiko.
Selat Hormuz bukan perairan biasa—ia adalah wilayah yang berada dalam jangkauan penuh sistem pertahanan Iran, termasuk rudal balistik dan teknologi militer mutakhir yang dikembangkan selama bertahun-tahun.
Strategi di Balik Gelombang
Di sisi utara selat, Iran tidak hanya mengandalkan kekuatan kasar. Mereka membangun pendekatan asimetris—menggabungkan kecepatan kapal kecil, ranjau laut, drone, dan penguasaan geografis yang presisi.
Dalam konteks ini, nama Alireza Tangsiri muncul sebagai figur sentral—komandan Angkatan Laut Garda Revolusi Iran yang memahami setiap lekuk perairan itu seperti halaman rumahnya sendiri.
Bagi Iran, menguasai Selat Hormuz bukan hanya soal militer, tetapi juga pesan strategis: bahwa mereka mampu mempengaruhi denyut ekonomi global tanpa harus menembakkan satu peluru pun.
Ketakutan Akan Perang yang Lebih Luas
Banyak negara tampaknya menyadari satu hal—konflik di Hormuz berpotensi menjadi percikan yang menyulut perang regional, bahkan global.
Jalur ini terlalu penting untuk dipertaruhkan, tetapi juga terlalu berbahaya untuk direbut secara paksa.
Ketika negara-negara seperti Jepang, Jerman, atau Australia memilih mundur, itu bukan sekadar keputusan politik—melainkan refleksi dari dunia yang semakin multipolar.
Tidak lagi satu kekuatan tunggal yang dapat menggerakkan koalisi global dengan mudah.
Pergeseran yang Tak Terelakkan
Apa yang terjadi di Selat Hormuz hari ini mungkin akan dikenang sebagai titik balik. Bukan hanya soal siapa yang menguasai laut, tetapi siapa yang mampu menahan diri.
Di tengah klaim kekuatan armada besar dan dominasi laut, realitas di lapangan menunjukkan sesuatu yang lebih kompleks: kekuatan tidak selalu berarti kendali. Dan kendali tidak selalu datang dari yang paling kuat, tetapi dari yang paling memahami medan.
Di atas ombak yang tampak tenang, dunia sedang menyaksikan perubahan arah sejarah—perlahan, tapi pasti potret ini memperlihatkan AS mulai ditinggal oleh para sekutunya (Marwan Aziz).

