Dosen PAI UNJ Latih Guru di Pulau Pari Terapkan Islamic Morning Spirit, Bentuk Siswa Disiplin dan Santun

Kabar Kabar Jakarta News Nusantara Terkini

PULAU PARI, KABAR.ID – Upaya membangun karakter siswa di wilayah kepulauan terus diperkuat.

Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Negeri Jakarta menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) di SMP Negeri Satu Atap 01 Pulau Pari, Kepulauan Seribu, Senin (11/5/2026).

Mengusung tema “Pelatihan Penerapan Metode Pembiasaan Religius Pagi (Islamic Morning Spirit) bagi Guru SMP Negeri Satu Atap 01 Pulau Pari untuk Membentuk Karakter Disiplin dan Santun Siswa”, kegiatan ini mendapat respons positif dari para guru.

Pelatihan dipandu oleh Dr. Izzatul Mardhiah, M.A. yang menyoroti tantangan pendidikan karakter di sekolah-sekolah pesisir.

Menurutnya, keterbatasan sarana, interaksi dengan wisatawan dari berbagai budaya, hingga pengaruh media sosial menjadi tantangan tersendiri bagi pembentukan karakter siswa.

“Sering kali kegiatan religius di sekolah hanya menjadi rutinitas dan hafalan semata tanpa pemaknaan mendalam. Karena itu Islamic Morning Spirit hadir untuk menanamkan nilai-nilai Islam sejak siswa memulai hari dengan semangat positif,” ujar Dr. Izzatul.

Ia menjelaskan, metode Islamic Morning Spirit dilakukan selama 5-10 menit sebelum pembelajaran dimulai. Ada tiga tahapan utama yang diterapkan guru kepada siswa.

Tahap pertama berupa pertanyaan pemantik yang mengajak siswa berpikir kritis tentang pentingnya kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari.

Tahap kedua adalah doa sesuai tema karakter yang dibangun hari itu. Sedangkan tahap ketiga berupa afirmasi atau kalimat positif untuk memotivasi siswa agar konsisten menjalankan nilai-nilai tersebut.

“Metode ini tidak hanya menyentuh aspek spiritual, tetapi juga psikologis, fisik, dan sosial siswa. Kuncinya ada pada konsistensi dan keteladanan guru,” jelasnya.

Sebagai pendukung implementasi, tim PAI UNJ juga memperkenalkan buku panduan harian Islamic Morning Spirit.

Buku tersebut memuat tema karakter berbeda setiap hari lengkap dengan pertanyaan pemantik, pesan berdasarkan ayat Al-Qur’an dan hadis, doa, aktivitas fisik ringan, hingga afirmasi siswa.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Salah satu guru, Ibu Badriah, menanyakan penyesuaian waktu pelaksanaan antara jenjang SD dan SMP yang memiliki jam masuk berbeda.

Menanggapi hal itu, Dr. Izzatul menegaskan metode ini sangat fleksibel karena dapat diterapkan pada awal pelajaran pertama, kapan pun guru memasuki kelas.

Sementara itu, Bapak Ulmu mempertanyakan kemungkinan penerapan metode tersebut di kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka. Pertanyaan itu disambut positif.
“Justru sangat dianjurkan agar pembentukan karakter tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga menyeluruh dalam aktivitas sekolah,” jawab Dr. Izzatul.

Kegiatan kemudian ditutup dengan posttest yang menunjukkan antusiasme tinggi para peserta. Para guru berharap metode Islamic Morning Spirit dapat diterapkan secara konsisten dan menjadi budaya sekolah yang kuat bagi generasi muda di wilayah Kepulauan Seribu.

Program ini juga dinilai sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs, khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 16 mengenai Perdamaian dan Institusi yang Kuat (Marwan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *