KUALA LUMPUR, KABAR.ID– Dari Sulawesi hingga Sumatra, darah kepulauan mengalir dalam denyut kekuasaan modern.
Di tengah hiruk-pikuk politik Asia Tenggara, ada satu benang merah yang jarang disadari publik: jejak panjang migrasi dan percampuran budaya Nusantara yang mengalir hingga ke pucuk kekuasaan Malaysia.
Nama-nama besar seperti Mahathir Mohamad, Najib Razak, hingga Anwar Ibrahim bukan sekadar tokoh politik—mereka adalah cerminan sejarah panjang pergerakan manusia di kawasan yang dahulu dikenal sebagai Nusantara.
Warisan Bugis Makassar: Pelaut, Pejuang, dan Penguasa
Di antara etnis yang paling berpengaruh dalam sejarah Malaysia adalah Bugis Makassar bangsa pelaut ulung dari Sulawesi Selatan.
Sejak abad ke-17, orang Bugis Makassar telah menjelajahi lautan, berdagang, dan bahkan membangun kekuasaan di Semenanjung Malaya.
Tokoh seperti Najib Razak diketahui memiliki garis keturunan Makassar dari Sulawesi Selatan, bahkan ditelusuri hingga bangsawan Gowa.
Jejak Bugis ini bukan sekadar simbolik. Dalam sejarah, Kesultanan Selangor sendiri didirikan oleh keturunan Bugis Makassar—menandakan bahwa etnis ini bukan “pendatang biasa”, melainkan arsitek penting dalam pembentukan politik Melayu modern.
Tak hanya Najib, figur seperti Muhyiddin Yassin dan Ismail Sabri Yaakob juga sering disebut memiliki akar Bugis, memperkuat fakta bahwa jaringan diaspora ini telah mengakar dalam elit politik Malaysia.
Mahathir: Kontroversi dan Identitas yang Kompleks
Nama Mahathir Mohamad sendiri pernah memicu polemik terkait isu Bugis. Dalam kritik politiknya terhadap Najib, ia sempat menyinggung asal-usul Bugis—yang justru memantik reaksi keras karena Bugis dianggap sebagai bagian terhormat dalam sejarah Melayu.
Menariknya, latar belakang Mahathir sendiri mencerminkan kompleksitas identitas Asia Tenggara. Ia memiliki garis keturunan campuran Melayu dan India dari Kerala.
Ini menunjukkan satu hal penting: identitas “Melayu” di Malaysia bukanlah garis darah tunggal, melainkan hasil asimilasi panjang berbagai etnis Nusantara dan Asia.
Minangkabau: Dari Ranah Sumatra ke Istana Putrajaya
Jika Bugis Makassar datang dari timur, maka Minangkabau dari Sumatra Barat membawa pengaruh dari barat.
Anwar Ibrahim diketahui memiliki garis keturunan Minangkabau dari Indonesia—sebuah etnis yang terkenal dengan tradisi merantau dan jaringan intelektualnya di dunia Melayu.
Sejak berabad-abad lalu, orang Minangkabau telah menyebar ke Semenanjung Malaya, membawa sistem adat, pendidikan, dan perdagangan.
Tak heran jika banyak tokoh penting Malaysia memiliki akar dari Sumatra Barat.
Nusantara: Satu Sejarah, Banyak Negara
Fenomena ini mengungkap realitas yang sering terlupakan: batas negara modern tidak selalu mencerminkan batas budaya dan sejarah.
Sebelum lahirnya negara seperti Indonesia dan Malaysia, kawasan ini adalah satu kesatuan maritim—Nusantara—di mana orang Bugis Makassar, Minangkabau, Jawa, dan Melayu saling berinteraksi tanpa sekat politik. Migrasi bukanlah pengecualian, melainkan norma.
Politik Modern, Akar Kuno
Ketika kita melihat para pemimpin Malaysia hari ini, kita sebenarnya sedang melihat puncak dari proses sejarah ratusan tahun dari perdagangan maritim, diaspora antar pulau, perkawinan antar etnis dan integrasi budaya.
Dari Sulawesi hingga Sumatra, dari pelaut Bugis Makassar hingga perantau Minangkabau—semuanya berkontribusi membentuk wajah Malaysia modern.
Rumpun yang Tak Terpisahkan
Di balik bendera yang berbeda, Indonesia dan Malaysia berbagi akar yang sama—akar yang tertanam dalam sejarah panjang Nusantara.
Para pemimpin itu hanyalah simbol. Simbol bahwa identitas di Asia Tenggara bukanlah tentang garis batas, melainkan tentang perjalanan manusia (Wan)
Sumber:
– Malaysiakini, Malay Mail, ANTARA News (sejarah Bugis dan kontroversi Mahathir)
– SindoNews (asal-usul Bugis Najib Razak)
– Wikipedia (biografi Mahathir Mohamad)
Wikipedia

