Ilustrasi ketika AI menggerus ekosistem media. Dok : Gemini/Kabar.id
JAKARTA, KABAR.ID — Di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa, hadir paradoks yang nyaris tak terlihat oleh publik luas: kehadiran kecerdasan buatan (AI) justru mengancam jantung kehidupan media jurnalistik.
Laporan terbaru mengungkap bagaimana asisten AI seperti ChatGPT perlahan tapi pasti menggerus lalu lintas kunjungan ke situs berita dan memukul pendapatan yang menopang eksistensi jurnalisme.
“Tiga atau empat tahun ke depan akan sangat berat bagi para penerbit. Tidak ada yang kebal terhadap badai ringkasan AI,” ungkap Matt Karolian, Wakil Presiden R&D Boston Globe Media seperti dikutip Kabar.id dari AFP (05/08/2025).
“Penerbit harus membangun perlindungan mereka sendiri, atau akan tersapu.”ujarnya.
Tekanan ini datang ketika industri media global—yang sudah lama bergantung pada iklan digital dan konversi pelanggan—berusaha tetap relevan di era dominasi mesin pencari dan media sosial. Kini, AI memperparah luka itu dengan menyajikan ringkasan langsung di mesin pencari, membuat pembaca tidak lagi mengklik tautan sumber aslinya.
Jejak yang Hilang, Suara yang Tenggelam
Penelitian Pew Research Center mencatat bahwa pengguna dua kali lebih jarang mengklik tautan berita ketika ringkasan AI muncul di hasil pencarian. Dampaknya sangat nyata: lalu lintas menurun, pendapatan iklan anjlok, dan kemampuan media untuk mempertahankan jurnalis profesional semakin menipis.
John Wihbey, profesor di Northeastern University, menyebut tren ini sebagai awal dari wajah baru internet. “Kita akan melihat transformasi total. Sebentar lagi, web akan menjadi sesuatu yang sangat berbeda,” tegasnya.
Media telah beralih ke strategi langganan berbayar sebagai pelampung, namun tanpa lalu lintas yang cukup, bahkan strategi itu pun mulai goyah.
Antara Bertahan atau Terhapus
Beberapa organisasi media mencoba bertahan dengan mengadopsi GEO (Generative Engine Optimization)—sebuah teknik baru untuk menyajikan konten yang mudah dicerna oleh model AI generatif. Konten kini perlu terstruktur, jelas, dan aktif dibagikan di forum digital seperti Reddit agar bisa “terlihat” oleh mesin.
Namun pertanyaannya tetap menggantung di udara: “Haruskah kita membiarkan crawler AI mengakses seluruh isi situs kita secara gratis?”
Tanya Thomas Peham, CEO startup optimisasi OtterlyAI.
Dihadapkan pada praktik pengambilan data besar-besaran oleh perusahaan teknologi, sejumlah media mulai melawan. Beberapa memblokir akses AI ke konten mereka, menuntut keadilan dalam bentuk kompensasi lisensi.
Danielle Coffey, pimpinan aliansi industri media News/Media Alliance, menegaskan: “Perusahaan teknologi harus membayar nilai pasar yang adil untuk konten yang mereka manfaatkan.”
Di Simpang Jalan: Membuka atau Menutup Pintu?
Penerbit kini berada di antara dua pilihan sulit: melindungi konten mereka dari eksploitasi AI atau tetap membuka akses demi eksposur. Namun, membuka akses pun belum tentu menjadi solusi jangka panjang.
Data dari OtterlyAI menunjukkan, hanya 29 persen kutipan ChatGPT berasal dari media berita, kalah dibanding situs korporat yang mencapai 36 persen. Artinya, media berita tak hanya kehilangan pembaca—mereka juga kalah dalam persaingan kredibilitas versi AI.
Apa yang Terjadi Jika Tak Ada Lagi yang Meliput?
Menurut laporan Digital News Report 2025 dari Reuters Institute, 15 persen generasi muda di bawah 25 tahun kini mendapatkan berita dari AI generatif, bukan dari jurnalis atau media.
Namun ketika masyarakat tak lagi tahu siapa yang pertama kali melaporkan berita, apa arti kredibilitas? Apa yang terjadi ketika tidak ada lagi yang benar-benar meliput?
“Pada akhirnya, seseorang tetap harus turun ke lapangan. Tanpa jurnalisme asli, platform AI tak punya apa-apa untuk diringkas,” tegas Karolian.
Google kini mulai menjalin kemitraan dengan organisasi media untuk menyuplai data ke fitur AI mereka, menunjukkan bahwa raksasa teknologi pun mulai menyadari pentingnya peran pers.
“Saya percaya platform akhirnya akan sadar betapa mereka butuh media,” ujar Wihbey.
Namun pertanyaannya, apakah kesadaran itu datang tepat waktu untuk menyelamatkan ruang redaksi yang kian sekarat? (AFP/KBI)

